Ini Alasan Ahmad Dhani Tutupi Pernikahannya dengan Mulan

JAKARTA, KOMPAS.com — Ahmad Dhani akhirnya membuka tabir soal pernikahan sirinya dengan Mulan Jameela, mantan rekan duet Maia Estianty, mantan istri Dhani. Dalam talkshow yang dipandu Alvin Adam, Dhani mengungkapkan mengapa selama ini dia tak pernah memberi pernyataan soal kebenaran pernikahan dengan artis asuhannya itu.

“Ada hal-hal yang perlu diklarifikasi, ada yang tidak. Banyak yang bilang saya nikah diam-diam, punya anak enggak diakui, jawaban saya sederhana sebenarnya,” kata Dhani dalam acara yang disiarkan secara tunda, Minggu (4/8/2013) malam.

Dhani merasa masyarakat tak perlu mengetahui urusan pribadinya. Diakui pentolan Dewa 19 itu, dia hanya ingin dikenal sebagai musisi.

“Saya mau nikah, kawin cerai sampai 30 kali misalnya, atau saya nikah siri, saya enggak perlu klarifikasi. Menurut saya enggak terlalu penting untuk diklarifikasi. Enggak tahu kalau orang menganggap itu penting,” ujarnya.

Ditegaskan Dhani, dia hanya ingin dikenal dari karya-karyanya, “Bukan isi keluarga saya,” ujar bapak empat anak ini.

Sumber :
Tabloid Nova
Editor :
Eko Hendrawan Sofyan

Fonterra Pastikan Tidak Ada Produk Susu Tercemar di Indonesia

KOMPAS.com —Produsen susu asal Selandia Baru, Fonterra, memastikan bahwa produk susunya yang dipasarkan di Indonesia tidak ada yang tercemar bakteri Clostridium botulinum seperti di China.

Bagus Kuncoro, HR & Corporate Affairs PT Fonterra Indonesia, menjelaskan, susu yang tercemar di China memang menggunakan bahan baku whey protein concentrate (WPC 80) dari Fonterra. Namun, bahan baku tersebut tidak dipakai di Indonesia.

“Sebagai produsen susu terbesar, kami bukan cuma menjual produk jadi tapi juga bahan baku ke perusahaan susu, termasuk ke beberapa produsen besar, baik lokal maupun perusahaan multinasional,” kata Bagus ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (6/8/2013).

WPC 80 didapat dari proses lanjutan yang berasal dari susu segar menjadi konsentrat. Untuk produk susu di Indonesia, menurut Bagus, pada umumnya bahan baku tidak digunakan.

Bahan baku tersebut dipakai untuk produk susu formula, susu pertumbuhan, minuman energi, dan pakan ternak. Sementara itu, produk susu cair, susu rendah lemak, yoghurt, dan susu UHT, tidak menggunakan konsentrat tersebut.

“Jadi yang tercemar bukan produk susu produksi Fonterra, melainkan dari produk pelanggan kami,” katanya.

Ia juga meminta agar konsumen di Indonesia tidak panik. “Sebenarnya tidak ada dampaknya untuk konsumen di Indonesia karena bahan baku itu tidak kita pakai dan produk dari produsen susu tersebut tidak diekspor ke sini,” imbuhnya.

Dalam situs Fonterra.com juga dijelaskan bahwa produk yang tercemar botulisme hanya tiga batch dan diekspor ke China, Malaysia, Vietnam, Thailand, Australia, dan Arab Saudi. Pencemaran diketahui berasal dari pipa yang tidak steril di pabrik yang berada di Selandia Baru.

Menanggapi kasus tersebut, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Roy Sparingga mengatakan, BPOM akan lebih waspada dalam menyeleksi susu dan produk susu yang masuk ke Indonesia, terutama yang mengandung WPC 80.

Hal itu dilakukan melalui pengawasan berbasis risiko, antara lain dengan sampling dan uji laboratorium atas sampel pangan yang dicurigai di pasaran.

Pesawat Nirawak AS Tewaskan Terduga Al-Qaeda

KOMPAS.com — Sebuah pesawat nirawak milik AS menewaskan empat terduga anggota Al Qaeda di Provinsi Marib, Yaman. Informasi ini berasal dari kantor kementerian dalam negeri Yaman sebagaimana warta Xinhua pada Selasa (6/8/2013).

Serangan pesawat nirawak itu mengincar sebuah truk bak terbuka yang mengangkut chip elektronik. Informasi mengenai truk mencurigakan itu berasal dari intelijen Yaman di Al-Arqain.

Kementerian itu juga mengatakan kalau salah satu korban tewas adalah komandan Al Qaeda setempat. Namanya, Saleh Jouti.

Sebelumnya, pada Minggu (4/8/2013), Pemerintah Yaman meningkatkan pengamanan lantaran ancaman serangan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP). Ancaman itu membuat AS dan beberapa negara Eropa menutup kedutaan besar mereka di negeri itu.

Editor : Josephus Primus

China Berani Melarang Susu Formula Berbakteri, Indonesia?

BEIJING, KOMPAS.com — China telah meminta perusahaan farmasi Amerika Serikat, Abott, untuk menarik sejumlah produk susu formula karena diduga mengandung bakteri yang menyebabkan penyakit botulisme.

Pemerintah China melalui Dinas Pengawasan Kualitas dan Karantina (AQSIQ) menyatakan dua kelompok produk susu formula dari Abott berisiko mengandung bakteri Clostridium botulinum.

Langkah itu dilakukan beberapa hari setelah pemerintah negara komunis itu terlebih dulu melarang peredaran susu formula produksi Fonterra, Selandia Baru, yang mengandung bakteri serupa. Susu formula yang mengandung bakteri Clostridium botulinum disinyalir bisa menyebabkan paralisis (kelumpuhan) bahkan kematian pada bayi.

“AQSIQ telah meminta Abbott untuk menarik produk-produk yang mengandung bakteri guna melindungi kesehatan konsumen China,” tulis instansi tersebut, sebagaimana dikutip pada Selasa (6/8/2013).

Adapun susu formula yang diduga mengandung bakteri itu ditujukan untuk bayi berusia 1-3 tahun, dan diproduksi oleh Fonterra pada 2 Mei untuk anak usaha Abott di Shanghai.

Sebelumnya, Fonterra mengungkapkan bahwa produk susunya telah tercemar bakteri. Perusahaan itu menyatakan tercemarnya susu formula disebabkan oleh pipa kotor saat pemrosesan susu.

“Meskipun kontaminasi terjadi untuk dua kelompok produksi, namun kami berkomitmen untuk menarik seluruh produk dan memusnahkannya untuk kepentingan konsumen,” jelas perusahaan itu.

Susu formula menjadi isu sensitif di China, seiring dengan naiknya tingkat ketidakpercayaan konsumen atas produk tersebut saat banyak susu formula tercemar melamin dan menewaskan enam bayi serta menyebabkan 300.000 bayi menderita pada 2008.

Di Indonesia sebenarnya pernah mencuat kasus mengenai tercemarnya susu formula yang mengandung bakteri pada 2011, dari hasil penelitian Institut Pertanian Bogor.

Namun, jangankan melakukan pelarangan peredaran, Badan POM justru menolak untuk mengungkap merek-merek susu formula yang tercemar itu.
Sumber : AFP
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Oposisi Tuding Suriah Menggunakan Senjata Nuklir

Kelompok oposisi Suriah (SNC) kembali menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia. SNC tulis AP pada Selasa (6/8/2013) akan memasukkan laporannya ke dalam bahan badan PBB.

SNC yang menjadi payung organisasi oposisi Suriah di luar negeri itu juga menuduh rezim Presiden Bashar-al Assad berada di belakang pembunuhan selama Ramadhan.

Adalah Anggota Senior SNC Louay Safi di Istanbul, Turki, yang mengatakan kalau selama sebulan ini ada 1700 korban tewas pada 20 serangan bersenjata di berbagai tempat. “Serangan mematikan itu menargetkan warga sipil yang tengah bersembahyang malam di Homs,”katanya.

SNC, kata Safi kembali meminta agar komunitas internasional mengambil tindakan segera untuk melindungi warga sipil. “Kami juga minta agar pihak yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan massal itu, termasuk Assad, diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional,”demikian Louay Safi.

Kirobo Ke Luar Angkasa

Sebuah robot mungil bernama Kirobo diluncurkan ke stasiun luar angkasa internasional. Robot setinggi 34 sentimeter dan berbobot 1 kilogram tersebut pun mempunyai tingkat intelejensi yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk belajar.

Peluncuran robot ini sendiri dilakukan pada Minggu kemarin (4/8/2013). Menurut rencana, pesawat yang membawa robot ini akan sampai di stasiun luar angkasa internasional pada Jumat nanti.

Robot ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Tokyo, Toyota Motor Corp dan Dentsu Inc. Robot ini pun didesain agar bisa beraktivitas secara lancar di luar angkasa dan mampu beroperasi di lingkungan dengan gravitasi nol.

Tak hanya itu, robot ini juga mempunyai teknologi voice serta face recognition. Sebagai pelengkap, Kirobo ini juga mampu berbicara dan berkomunikasi dengan para astronot. Dengan begitu, robot ini pun dapat berbincang-bincang dengan para astronot di stasiun luar angkasa.

Sayangnya, untuk saat ini robot Kirobo masih belum mengerti bahasa Inggris. Satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh Kirobo adalah bahasa Jepang. Dan menurut rencana, seorang astronot Jepang bernama Koichi Wakata pun akan menyusul Kirobo pada bulan November mendatang.

Gempa Besar Bikin Gunung Api Tenggelam

KOMPAS.com — Gempa besar dapat menyebabkan gunung api tenggelam atau turun. Ini terungkap dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience baru-baru ini.

Penelitian mengungkap, gempa bermagnitud 9 yang terjadi di Jepang tahun 2011 menyebabkan penurunan hingga 15 cm pada gunung-gunung api di Pulau Honshu hingga sejauh 200 km dari pusat gempa.

Sementara itu, gempa bermagnitud 8,8 di Maule, Cile, tahun 2010, menyebabkan penurunan yang hampir sama pada lima gunung api yang berjarak hingga 220 km dari pusat gempa.

Baik gempa Jepang maupun Cile merupakan gempa subduksi, disebabkan oleh salah satu lempeng yang menghunjam lempeng lainnya. Jika gerakan tak halus, maka dapat tercipta tegangan selama beberapa dekade hingga akhirnya ketika mencapai puncak tegangan dilepaskan, kadang lewat peristiwa bencana besar yang mematikan.

Baik dalam kasus di Jepang maupun Cile, penurunan terjadi pada gunung api yang secara horizontal masuk di wilayah sekitar pusat gempa.

Youichiro Takada dari Disaster Prevention Research Institute di Kyoto University mengatakan, gempa Jepang tahun 2011 menciptakan tegangan barat-timur di wilayah timur Jepang.

“Batuan yang panas dan lunak di bawah, dengan magma di pusatnya, secara horizontal meregang dan secara vertikal mendatar. Deformasi ini menyebabkan gunung api turun,” kata Takada seperti dikutip AFP, Minggu (30/6/2013).

Seperti di Jepang, deformasi di Cile terjadi di wilayah berbentuk elips hingga seluas 15 x 30 km, meskipun sebabnya bisa berbeda.

Dua gempa di Cile pada tahun 1906 dan 1960 diikuti dengan erupsi gunung berapi di zona vulkanis selatan Andean setahun setelah gempa.

Meski demikian, kaitan antara gempa besar dan erupsi vulkanis belum jelas.

Tidak ada erupsi besar yang bisa dikaitkan dengan gempa tahun 2010 di Cile. Sementara itu, dampak gempa besar di Jepang pada tahun 2011 tidak jelas.

“Pada tahap ini, kami belum mengetahui hubungan antara gempa besar, erupsi, dan penurunan yang kita temukan. Pemahaman lebih lanjut tentang gerakan magma penting,” kata Takada.

Penurunan di Jepang dijumpai di Gunung Akitakoma yang terakhir mengalami erupsi pada tahun 1971, Kurikoma yang terakhir erupsi tahun 1950, Zao yang terakhir erupsi tahun 1940, Azuma yang terakhir erupsi tahun 1977, dan Nasu yang terakhir erupsi tahun 1963.
Sumber : AFP
Editor : Yunanto Wiji Utomo